Langsung ke konten utama

Kisi-Kisi Instrument Kegiatan Pembalajaran Kimia

 Kisi-kisi merupakan matrik yang berisi spesifikasi instrumen yang akan ditulis. Langkah pertama dalam menentukan kisi-kisi adalah menentukan definisi konseptual yang berasal dari teori. Selanjutnya mengembangkan definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar, yaitu kompetensi yang dapat diukur. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. Indikator merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Tiap indikator bisa dikembangkan dua atau lebih instrument. Skala yang sering digunakan dalam instrumen penilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik. Serta pembelajaran kimia merupakan proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran kimia.

Disruption atau disruptive innovation adalah hal-hal yang mengacu kepada teknologi dan memberikan pengaruh besar terhadap industri atau pasar. Di sisi lain, menurut clayton christensen, disruption menggambarkan proses di mana suatu produk atau jasa yang berawal dari aplikasi sederhana merambat dari pasar kecil ke dalam pasar besar sehingga menggeser perusahaan konvensional. Salah satu contoh nyata dari disruption adalah adanya internet di tengah-tengah masyarakat. Tak bisa dimungkiri, internet mengubah kehidupan manusia secara drastis, tak terkecuali dalam kegiatan pembelajaran. Hadirnya internet membuat semua pembelajaran harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang sedang terjadi. Pilihannya hanya dua, yaitu mengubah cara dalam menjalankan pembelajaran atau tidak mau beradaptasi sehingga mengalami kemunduran. Kaitannya dengan pendidikan yaitu banyak sekali kita jumpai penemuan baru dalam pendidikan, misalnya saja, model ujian yang dulunya menggunakan kertas sekarang berbasis komputer, model pembelajaran e-learning dan sebagainya. Tidak dipungkiri, munculnya hal tersebut erat kaitannya dengan era digital dan internet. Multimedia dapat dikatakan inovasi ‘mengganggu’ yang kemudian menjadi nilai tambah dalam suatu proses pembelajaran. Hofstetter menyatakan bahwa multimedia adalah penggunaan komputer  untuk menampilkan informasi yang merupakan gabungan dari teks,  grafik, audio dan video sehingga membuat pengguna dapat bernavigasi,  berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi dengan komputer.

Awal tahun ajaran baru merupakan momentum penting bagi para guru, setidaknya untuk melakukan 3 hal: Evaluasi, Formulasi, dan Menyusun Strategi. Proses pembelajaran di sekolah, perlu dilakukan rekalibrasi, agar tetap relevan dengan kondisi kekinian, namun tak mengikis prinsip utama pendidikan. Di jaman kekinian, belajar mengajar di sekolah tak lagi sebatas pedagogy, namun juga heutagogy, peeragogy, dan cybergogy.

Jaman ini, setidaknya ada tiga alternatif utama siasat dalam proses pendidikan di sekolah. Pertama, Heutagogy. Heutagogy ini merupakan strategi mendidik siswa yang mendorong mereka untuk memiliki keterampilan mengarahkan diri. Pengembangan kemampuan self-directing ini begitu penting di jaman multitasking ini. Tanpa kemampuan mengarahkan diri, siswa akan sangat mudah terganggu, terpengaruh, dan teralihkan oleh berseliwerannya fitur-fitur digital.

Strategi pendidikan kedua, yakni Peeragogy. Peeragogy ini adalah strategi pendidikan yang membiasakan siswa untuk terlatih fokus pada belajar bekerjasama dan mencipta bersama-sama. Tak dapat dinafikan, gadget yang kini digandrungi para peserta didik kian menjauhkan mereka dari lingkungan sosial. Siswa menjadi sangat individual dan tak terbiasa belajar dengan teman sebaya. Padahal, keterampilan abad 21 mensyaratkan kompetensi siswa untuk mampu berkolaborasi dengan individu lainnya. Kompetensi berkolaborasi ini perlu ditanamkan melalui strategi peeragogy.

            Strategi yang ketiga, ialah Cybergogy. Cybergogy ini merupakan strategi pendidikan yang mendorong para pembelajar untuk terlibat dalam lingkungan belajar dalam jaringan. Lingkungan Online, serba terkoneksi, kini telah menjadi keseharian dari kehidupan para siswa. Media komunikasi dan interaksi, suka tidak suka kini telah beralih dari bentuk fisik ke bentuk maya.

Tiga alternatif strategi ini dapat di integrasikan dan dikolaborasikan menjadi suatu strategi dan formulasi baru dalam dunia pendidikan. Sehingga, sekolah semakin dekat dengan para siswa, dan konten belajar menjadi lebih relevan bagi kehidupan para siswa. Apakah kita perlu menciptakan strategi-strategi baru, agar pendidikan tetap tidak jauh dengan jaman dan tetap relevan dengan kehidupan? Beri alasan anda

Komentar

  1. Saya izin menanggapi pertanyaan saudara, Apakah kita perlu menciptakan strategi-strategi baru, agar pendidikan tetap tidak jauh dengan jaman dan tetap relevan dengan kehidupan? tentu saja perlu. Kita perlu menciptakan strategi-strategi baru, agar pendidikan tetap tidak jauh dengan jaman dan tetap relevan dengan kehidupan. Guru dapat menciptakan lingkungan dan iklim belajar yang lebih luas tanpa dibatasi oleh sekat-sekat tradisional: ruang kelas, jadwal dan kurikulum. Proses pendidikan dapat menjelajah kehidupan siswa secara lebih luas, dan membuat iklim eksplorasi pengetahuan menjadi menarik dan relevan dengan kondisi kekinian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat saudari nurul rahmiah, bahwa dalam pembelajaran kita perlu menciptakan strategi-strategi baru agar pembelajaran semakin berkembang dan kita juga perlu menggunakan teknologi terbaru ataupun pembelajaran yang interaktif agar dapat meningkatkan skill peserta didik, sesuai dengan pembelajaran abad 21 yang menekankan kepada 4C yaitu Creativity, Collaboration, Critical Thinking and Communication.

      Hapus
  2. Menurut saya, dari tahun ketahun dunia pendidikan semakin berkembang dan tuntutan Zaman yang semakin berkembang sehingga selalu membutuhkan inovasi atau strategi baru untuk menyesuaikan dengan tuntutan yang ada. Melalui pendekatan pendekatan yang telah dijelaskan diatas yaitu cybergogy, peeragogy, dan heutagogy juga termasuk strategi baru yang dikembangkan untuk menyeimbangi tuntutan Zaman pada saat ini yaitu dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah era abad 21

    BalasHapus
  3. tentu saja perlu, pola pikir akan banyak terpengaruh dari akibat perkembangan zaman, maka pembelajaran perlu terus menyesuaikan, tanpa merubah hasil, apa hasilnya ? mencetak generasi yang cerdas dan berbudi luhur

    BalasHapus
  4. Mnurut saya, kita perlu menciptakan strategi-strategi baru, agar pendidikan tetap tidak jauh dengan jaman dan tetap relevan dengan kehidupan. Dengan menciptakan lingkungan dan iklim belajar yang lebih luas tanpa dibatasi oleh sekat-sekat tradisional seperti ruang kelas, jadwal dan kurikulum. lalu ada tiga alternatif utama siasat dalam proses pendidikan di sekolah yaitu Heutagogy yang merupakan strategi mendidik siswa yang mendorong mereka untuk memiliki keterampilan mengarahkan diri, kemudian Peeragogy adalah strategi pendidikan yang membiasakan siswa untuk terlatih fokus pada belajar bekerjasama dan mencipta bersama-sama dan Cybergogy yang merupakan strategi pendidikan yang mendorong para pembelajar untuk terlibat dalam lingkungan belajar dalam jaringan.

    BalasHapus
  5. Menurut saya, sangat diperlukan untuk menerapkan strategi-strategi seperti heutagogy, peeragogy dan cybergogy ke dalam kegiatan pembelajaran. Sebab, dengan penerapannya diharapkan peserta didik menjadi generasi penerus bangsa yang mampu bertahan di era industri 4.0 ini. Sistem pendidikan harus berkembang mengikuti zaman. Jika tidak demikian kita akan terus tertinggal dan terbelakang

    BalasHapus

Posting Komentar